Apa Hubungan Diabetes dengan Penyakit Jantung?
Diabetes dan penyakit jantung sering ditemukan bersamaan. Kenali mekanisme di baliknya, dari gula darah tinggi sampai resistansi insulin.

Diabetes dan penyakit jantung punya reputasi sering "jalan bareng" — dan itu bukan sekadar kesan. Keduanya berbagi mekanisme biologis yang saling tumpang tindih, sehingga memiliki salah satu kondisi ini membuat risiko mengalami kondisi lainnya ikut meningkat. Memahami kaitannya membantu Anda melihat kenapa pemeriksaan gula darah dan kesehatan jantung idealnya berjalan beriringan, bukan ditangani terpisah.
Kenapa Diabetes dan Penyakit Jantung Sering Ditemukan Bersamaan
Dari sisi data populasi, kaitan antara diabetes dan penyakit kardiovaskular sudah lama diamati. Tinjauan yang ditulis Glovaci, Fan, dan Wong (2019) mencatat bahwa penderita diabetes memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan populasi tanpa diabetes, dan penyakit kardiovaskular sendiri tetap menjadi penyebab kematian terbanyak pada penderita diabetes secara global (PMID: 30828746). Ini bukan kebetulan geografis atau gaya hidup semata — ada jalur biologis yang menjelaskan kenapa dua kondisi ini berkaitan erat.
Bagaimana Gula Darah Tinggi Merusak Pembuluh Darah
Salah satu jalur yang paling banyak diteliti adalah dampak langsung kadar gula darah tinggi ke pembuluh darah. Tinjauan terbaru oleh Islam dan koleganya (2025) menjelaskan bahwa kadar gula darah yang tinggi berkepanjangan dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotel) — lapisan tipis yang berperan menjaga pembuluh darah tetap lentur dan berfungsi normal (PMID: 40252164). Kerusakan pada lapisan ini membuat pembuluh darah lebih rentan mengalami peradangan dan gangguan fungsi, sebuah proses yang berjalan pelan-pelan namun terus-menerus selama kadar gula darah tidak terkendali.
Peran Resistansi Insulin di Balik Layar
Ada jalur lain yang sering luput dari perhatian: resistansi insulin, kondisi ketika sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin — hormon yang mengatur bagaimana tubuh memakai gula sebagai energi. Ormazabal dan koleganya (2018) menjelaskan bahwa resistansi insulin memengaruhi jantung lewat beberapa jalur sekaligus: memicu ketidakseimbangan metabolisme gula yang berujung pada peradangan dan kerusakan sel, mengubah metabolisme lemak dalam tubuh, dan turut memicu gangguan fungsi pembuluh darah lewat sinyal insulin yang tidak berjalan normal (PMID: 30170598). Resistansi insulin sendiri sering muncul sebelum seseorang benar-benar didiagnosis diabetes — artinya proses ini bisa sudah berjalan diam-diam lebih awal dari yang disadari.
Kaitannya dengan Kolesterol dan Penumpukan Plak
Yang menarik, tinjauan Ormazabal dkk. juga menyoroti bagaimana resistansi insulin mengubah profil lemak dalam darah — menaikkan kadar trigliserida, menurunkan kolesterol "baik" (HDL), dan memunculkan partikel kolesterol "jahat" (LDL) berukuran kecil dan padat yang secara umum dikaitkan lebih mudah menumpuk di dinding pembuluh darah (PMID: 30170598). Kombinasi gangguan profil lemak ini dengan kerusakan pembuluh darah yang sudah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan kenapa penumpukan plak di pembuluh darah bisa berjalan lebih cepat pada seseorang dengan diabetes atau resistansi insulin, dibandingkan orang tanpa kondisi tersebut.
Kenapa Faktor Risiko Ini Cenderung Menumpuk Bersamaan
Diabetes jarang berdiri sendiri. Ia sering ditemukan berbarengan dengan faktor risiko kardiovaskular lain seperti tekanan darah tinggi dan gangguan profil lemak darah — sebuah pola yang di dunia medis kadang disebut sebagai kumpulan faktor risiko metabolik. Kami pernah membahas salah satu faktor risiko yang sering menyertainya secara khusus di artikel tekanan darah tinggi dan beban kerja jantung — kombinasi beberapa faktor risiko sekaligus inilah yang membuat pemeriksaan kesehatan menyeluruh, bukan cuma satu angka saja, jadi penting.
Tanda yang Perlu Diperhatikan Sejak Dini
Sama seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2 pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala yang terasa jelas. Kerusakan pembuluh darah yang dijelaskan di atas bisa sudah berjalan bertahun-tahun sebelum seseorang merasakan keluhan apa pun, dan keluhan yang muncul pun kadang tidak spesifik — mudah lelah, misalnya, sering dianggap sekadar kurang istirahat. Inilah salah satu alasan pemeriksaan gula darah berkala disarankan, terutama bagi yang punya riwayat keluarga dengan diabetes atau penyakit jantung, bukan cuma menunggu sampai muncul keluhan.
Langkah yang Bisa Dilakukan
- Lakukan pemeriksaan gula darah secara berkala, terutama kalau ada riwayat
keluarga dengan diabetes atau penyakit jantung.
- Periksa juga tekanan darah dan profil lemak darah sekaligus, bukan hanya
gula darah — mengingat faktor-faktor risiko ini cenderung muncul bersamaan.
- Diskusikan hasil pemeriksaan dengan tenaga medis untuk penanganan yang
sesuai kondisi masing-masing.
- Jaga pola hidup sehari-hari sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan
jantung dan kadar gula darah — beberapa kebiasaan sederhana soal ini pernah kami rangkum di artikel kebiasaan harian untuk jantung sehat.
Kesimpulan
Diabetes dan penyakit jantung berkaitan lewat lebih dari satu jalur: kerusakan langsung pada pembuluh darah akibat gula darah tinggi, resistansi insulin yang mengganggu metabolisme lemak dan fungsi pembuluh darah, serta kecenderungan faktor-faktor risiko ini muncul bersamaan. Prosesnya berjalan pelan dan sering tanpa gejala yang jelas di tahap awal, sehingga pemeriksaan berkala — bukan hanya gula darah, tapi juga tekanan darah dan profil lemak — menjadi langkah yang masuk akal untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus mengelola risiko diabetes sejak dini.
- Glovaci D, Fan W, Wong ND. Epidemiology of Diabetes Mellitus and Cardiovascular Disease, Current Cardiology Reports 2019
- Islam K dkk. Diabetes Mellitus and Associated Vascular Disease, Advances in Therapy 2025
- Ormazabal V dkk. Association between insulin resistance and the development of cardiovascular disease, Cardiovascular Diabetology 2018
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan saran dokter. Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, sedang hamil, menyusui, atau mengonsumsi obat rutin, konsultasikan dulu dengan tenaga kesehatan.

